Yang Tak Pernah Sampai
Hai, teman-teman. Eh, gak tau deng, bingung buat disebut teman. Em, boleh aku sampaikan sesuatu yang tak pernah aku sampaikan dulu?
Pertama.
Kamu tahu? Cita-citaku cukup tinggi waktu aku masuk sekolah ini. Keinginanku belajar hal baru sangat tinggi waktu itu. Tapi semangatku patah saat seseorang mengatakan, "yah..." dengan nada menyesal.
Posisinya saat itu pembentukan grup, diacak, dan aku kurang ingat apakah aku disebut terakhir atau sebaliknya sama orang itu. Pokoknya, saat dia tahu kalau dirinya satu grup denganku, dia bersuara seperti itu. Sampai hari ini, aku masih ingat itu siapa.
Meski begitu, meski aku orang yang secara gak langsung disakiti, aku gak akan pernah bilang dengan jelas bahwa kamulah orangnya.
Bukankah menyakitkan kalau sudah memiliki imej baik, tapi orang yang dulu kamu sakiti tiba-tiba bicara tentang perlakuanmu yang menyakiti orang tersebut? Ya, aku gak mau menghancurkan itu. Kalaupun aku bilang dengan jelas, pasti semua orang berpihak padamu. Karena memang, aku lebih 'kurang' daripada kamu. Orang-orang mungkin bakal bilang, "ada sebab, ada akibat". Ya, sebabnya aku memang kurang. Tapi aku pun gak menyalahkan diriku, karena aku manusia, aku hidup dengan wajar, dan aku boleh merasa tersinggung.
Buat kamu, aku gak menyalahkan kamu. Tapi aku harap, selama kehidupan ini, kedepannya kamu bisa menghargai orang-orang yang 'kurang' darimu. Awalnya aku kagum sama kelebihanmu. Iya, awal saja.
Kedua.
Enggak bermaksud untuk mengungkit hal yang sudah.
Kenapa kalian ikut jauhi aku hanya karena ucapan orang yang punya masalah pribadi denganku? Kenapa gak kalian coba dengar sisi aku?
Aku senang saat satu orang dari kalian akhirnya ada yang ingin mendengarkan sisiku, iya, hanya satu orang. Setelahnya pun aku masih merasa jauh, karena dirinya ada bersama kalian sedangkan aku jadi "sendiri".
Tapi, terima kasih. Karena pengalaman ini, aku tidak menjadi orang yang tega membiarkan seseorang sendirian terutama hanya karena "katanya". Meski sebab paling awalnya pun karena aku mencoba memahami seseorang yang dulunya sendirian. Aku gak merasa kapok, tapi aku menjadi lebih berhati-hati dan lebih pandai menganalisis perilaku seseorang.
Aku harap kalian dan keturunannya nanti selalu sehat dan diberi kebahagiaan.
Ketiga.
Kapan kamu minta maaf? Kenapa kamu hanya minta maaf saat momennya saja? Kamu gak tahu ya, aku simpan chat ucapan burukmu tentang aku dan dua orang terdekatku saat itu? Kenapa kamu bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa? Memang dasarnya manipulatif. Berusaha memanipulasi orang lain agar dia berpihak pada circle-mu.
Kabar terakhir aku gak sengaja lihat komentarmu di platform TikTok. Video berisi potongan film yang berkaitan dengan kesehatan mental, aku juga tahu kamu berkata dengan sok bijak sambil menggunakan emoticon "positif" padahal itu sama sekali bukan kalimat yang bijak dan netral.
Merasa keren karena orang lain menganggapmu bijak dan sedikit peduli kesehatan mental? Padahal aku tahu dirimu sebagai penghancur. Aku tahu dirimu yang menambah minyak dalam api. Apakah hidupmu terlalu sepi sampai harus memaksakan diri untuk disukai orang banyak dengan cara yang memanipulasi?
Apa kamu gak khawatir? Khawatir kalau ternyata disini masih ada orang yang pernah terluka karena perilakumu dan masih menanti ucapan maaf yang tulus? Apakah terasa bahwa gak ada lawan jenismu yang tulus? Apakah gak ada perasaan, "mungkin aku melakukan kesalahan di masa lalu sehingga tak ada lelaki yang tulus padaku", gak ada?
Apapun itu. Meski aku sudah memaafkan, tapi aku berharap kamu tetap meminta maaf dengan jelas. Setidaknya, jika kamu enggak meminta maaf pun, ada perubahan yang jauh lebih baik. Aku berharap kamu bisa bersikap lebih netral, bukan sok netral. Berharap bisa bersikap benar-benar positif, bukan sok positif. Tolong disadari, bahwa kamu itu hanya menebar toxic positivity. Kalau kata temanmu sendiri kamu itu, "si toxic merasa netral".
Menjadi bijak itu gak menyalahkan seseorang, gak memanipulasi orang lain. Menjadi orang yang positif itu bukan harus menggunakan emoticon bintang, kupu-kupu, peri, dan sebagainya. Kamu hanya terlihat bijak karena emoticon saja. Ucapanmu banyak kosongnya. Ucapanmu menutupi dirimu yang sudah menyakiti hati seseorang.
Keempat.
Kita sudah lulus. Aku pernah menyakiti kamu, kamu juga menyakiti aku. Aku agak sedih, kenapa kamu harus dekat dengan orang yang dulu menyakiti aku? Bahkan, dia pernah menyakiti kamu.
Aku ingat jelas saat namamu enggak disebutkan sama sekali oleh orang yang kini sahabatmu. Aku ingat kamu yang menangis di kamarku karena merasa sendirian. Aku ingat kamu jadi orang yang sangat baik karena kamu gak ingin orang-orang yang berada didekatmu menjauh lagi. Tapi kenapa harus mendekat pada orang yang dulu menyakitimu dan aku?
Okay. Aku menghargai pilihanmu, aku menghormatimu yang memilih untuk bersama dengan orang-orang yang pernah menyakitimu. Mungkin kamu bisa sangat jauh menerimanya sebagai masa lalu. Aku hanya khawatir. Bukankah aku salah satu orang yang tahu permasalahan terberatmu? Tidakkah kamu juga ingin berbagi kebahagiaan denganku?
Tidak. Tidak. Aku hanya betul-betul khawatir. Aku takut kamu tersakiti lagi karena aku sendiri kembali tersakiti oleh orang yang sama, bahkan setelah lama gak bertemu. Tapi aku harap sikap buruknya memang berkurang padamu, ku harap dirinya gak pernah mengeluarkan sikap buruknya lagi padamu. Aku juga berharap, jika kamu tersakiti lagi olehnya, kamu bisa sangat menyadarinya dan memilih untuk pergi saja.
— Terima kasih untuk kalian semua. Aku gak akan pernah melihat kalian ada di bawah atau di atas ku. Seburuk apapun yang kalian lakukan, aku selalu berharap yang terbaik. Aku yang sudah mendapat hal buruk dari kalian, kini sudah lebih baik dan akan selalu belajar demi diriku sendiri.
Komentar
Posting Komentar