Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Pesan, Ucapan Makasih dan Rasa Bersyukur Hari Ini Part. 1

[tulisan ini dibuat dengan bahasa yang enggak sesuai PUEBI wkwk, biar gak puitis banget :' ] Belakangan ini, ada orang-orang dan hal-hal yang bikin aku jengkel. Tapi, ada juga hal yang bikin senang, yaitu pengalaman pertama jadi speaker di Schoolfess, bisa bekerja sama dengan kakak-kakak psikologi tanpa rasa insecure, dan viewer sama subscriber aku naik. Seneng banget. :) Aku ingin kasih pesan buat diriku. Tolong ya, Kalau suatu hari aku ada di puncak, tolong untuk enggak merasa paling tinggi. Tolong, jangan pernah merasa kurang (dalam hal negatif). Tolong, buat selalu percaya sama diri sendiri. Tolong, kalo udah gak sanggup sendiri, minta bantuan ke orang lain. Aku juga mau bersyukur: Hari ini viewer, subscriber dan yang komentar di YouTube aku naik, mereka adalah orang lain. Sama sekali nggak pernah ada kontak sama aku. Makasih ya, sebagian warga Twitter yang udah sangat amat baik nge-support aku! Aku yang pernah percaya kalo gak ada lagi manusia baik, jadi mengurangi kepercayaa...

Aku Bangga Pada Diriku Karena

Meski pernah punya luka, aku enggak ngebiarin orang lain punya luka yang sama. Aku enggak ngebiarin mereka simpan luka mereka. Meski masalah yang pernah aku lewatin mungkin enggak seberapa, atau juga sama beratnya di mata orang lain, aku enggak pernah mandang permasalahan orang lain lebih ringan dari aku. Pernah gagal beberapa kali, tapi aku enggak nyerah. Keinginan nyerah itu ada, tapi enggak bikin aku beneran nyerah. Aku masih bertahan. Aku pernah takut, pernah capek jadi orang baik, pernah mau berhenti. Tapi justru aku sekarang ingin jadi orang yang ngasih manfaat dan berguna buat orang lain, karena aku suka jadi orang yang betul-betul bermanfaat dan berguna. Aku pernah benci diri sendiri, tapi aku bisa berhenti dan mulai rawat diri aku. Beberapa twit positif aku rame, hihi. Aku dibutuhin beberapa orang. Aku disukai anak-anak tempat aku praktik mata kuliah. — bakal update terus, soalnya aku suka spontan kepikiran

“Kak, gimana rasanya disamperin orang yang ada butuhnya aja?”

Aku pernah ditanya kayak gini di Instagram.  Ya, sebagai orang yang nerima curhatan, emang bener sih disamperinnya sama orang yang ada butuhnya aja. Jawabannya, enggak gimana-gimana. Tentunya, karena aku ngelakuin ini atas dasar suka dan ingin. Aku enggak kesel, aku enggak marah. Tapi ada hal yang sebenernya ingin aku keluhin sebagai pendengar. “Setidaknya kalo kamu nyamperin aku karena butuh, tolong dengerin dan hargai  aku juga yang nanggepin cerita kamu” Karena waktu curhat tuh kamu enggak jadi pusat dunia, kok. :( Hargain waktu aku, hargain energi yang aku keluarin buat dengerin dan pahamin cerita kamu. Ada sih beberapa tindakan orang yang curhat ke aku yang kadang bikin jengkel. Gimana ya? Jadi pendengar itu gak semudah itu. Terutama kalo belajar hal ini secara teoritis. Kan aku juga manusia biasa yang bisa kecapekan, bisa kesel, bisa marah, dan aku cuma butuh dihargai atas usaha aku. Aku bisa kesel kalo poin aku gak sampe meski udah ditulis detail dan pelan-pelan. Aku bi...

Draft: Black Letter for Someone

Gambar
 Halo, tulisan ini atau lebih tepatnya surat ini aku tulis buat seseorang. Surat ini udah aku buat dari bulan Mei 2021, tepatnya setelah Hari Raya Idul Fitri, setelah terima DM dari dia yang enggak pernah mau aku buka. Ya, dibuka orang lain sih, kkk. Jadi, "kamu" disini itu "kamu" yang aku tuju. :) Sebelumnya aku kasih nama file ini "surat benci wkwk". Iya, pake " wkwk " karena sebenernya bukan surat benci, gak ada siapapun yang aku benci disini. Tenang aja. Dan sekarang aku kasih judul Black Letter  terinspirasi dari ospek jurusan aku tahun kemarin yang nyatain unek-unek pake nama Surat Hitam :) Surat ini tadinya ingin aku kirim sambil aku kasih kado boneka Pil, sesuai bias kamu. Tapi, kelamaan aku mikir itu terlalu niat. Aku urungin niat aku, tapi karena hari ini aku baru liat ada satu DM Request yang masuk lagi ke hidden request, jadi aku sampaikan surat ini meski lewat blog .  Btw , aku emang enggak buka DM itu, tapi aku tau itu kamu karena ...

Yang Tak Pernah Sampai

Gambar
Hai, teman-teman. Eh, gak tau deng, bingung buat disebut teman. Em, boleh aku sampaikan sesuatu yang tak pernah aku sampaikan dulu? Pertama. Kamu tahu? Cita-citaku cukup tinggi waktu aku masuk sekolah ini. Keinginanku belajar hal baru sangat tinggi waktu itu. Tapi semangatku patah saat seseorang mengatakan, " yah... " dengan nada menyesal. Posisinya saat itu pembentukan grup, diacak, dan aku kurang ingat apakah aku disebut terakhir atau sebaliknya sama orang itu. Pokoknya, saat dia tahu kalau dirinya satu grup denganku, dia bersuara seperti itu. Sampai hari ini, aku masih ingat itu siapa. Meski begitu, meski aku orang yang secara gak langsung disakiti, aku gak akan pernah bilang dengan jelas bahwa kamulah orangnya. Bukankah menyakitkan kalau sudah memiliki imej baik, tapi orang yang dulu kamu sakiti tiba-tiba bicara tentang perlakuanmu yang menyakiti orang tersebut? Ya, aku gak mau menghancurkan itu. Kalaupun aku bilang dengan jelas, pasti semua orang berpihak pad...

Kamu Yang Paling Tau

Kenapa kamu kayak paling tau tentang aku? Kenapa kamu kayak tau banget soal latar kehidupan aku? Kenapa kamu gampang menghakimi orang lain yang bahkan enggak dekat kamu sama sekali? Kenapa kamu bisa bercanda kalo kehidupan lama aku gak ada capeknya? Aku kesel. Aku juga marah. Dulu, pertama kalinya aku dihakimi disini waktu kamu bilang bahwa aku kurang bersyukur . Hey, tau dari mana aku enggak bersyukur dalam hidup aku? Kapan terakhir kamu dengar aku bersyukur? Siapa sih, kamu? Apa kamu pikir bersyukur menyelesaikan masalah? Kamu benar, kok. Kamu benar, dengan bersyukur itu kita bisa lebih bahagia. Tapi, izin aku kasih tau kamu. Bersyukur enggak menyelesaikan semua masalah. Jujur, rasa tersinggung aku masih keinget kalo udah liat kamu. Kamu juga. Kamu yang merasa paling dekat sama aku . Kapan kamu ajak-ajak aku? Apa kamu tau alasan aku gak ikut kegiatan itu? Dan kenapa cerita bohong itu harus diceritain ke mereka yang dibawah? Rasa kesal sama tersinggung aku lebih tinggi lagi, karena ka...